Suno Raih US$400 Juta Meski Digugat Label Musik Raksasa, Valuasi Tembus US$5,4 Miliar

Share
Suno Raih US$400 Juta Meski Digugat Label Musik Raksasa, Valuasi Tembus US$5,4 Miliar

CLB.my.id - Suno, startup AI yang bisa bikin lagu dari teks, baru saja mengantongi US$400 juta di putaran Seri D. Yang bikin heboh, pendanaan ini datang di tengah gugatan hak cipta dari label musik raksasa dunia.

Putaran terbaru ini mengangkat valuasi Suno menjadi US$5,4 miliar. Padahal baru tujuh bulan lalu, perusahaan ini mengumpulkan dana dengan valuasi US$2,45 miliar. Artinya, investor tetap percaya diri meski Suno sedang berhadapan dengan masalah hukum serius.

Masalah Hukum yang Belum Selesai

Suno sendiri sudah mengakui bahwa AI mereka dilatih menggunakan lagu-lagu yang dilindungi hak cipta. Perusahaan berdalih bahwa hal ini diperbolehkan berdasarkan doktrin fair use, yaitu ketentuan hukum yang membatasi penggunaan materi berhak cipta tanpa izin.

Namun label musik besar seperti Universal Music Group (UMG), Sony, dan organisasi pengumpul royalti Jerman GEMA tetap mengejar jalur hukum. Hanya Warner Music Group (WMG) yang memilih berdamai dan menandatangani kesepakatan lisensi dengan Suno pada November 2025 lalu.

Ketika Sony dan UMG pertama kali menggugat Suno pada 2024, mereka mengklaim bahwa perusahaan itu telah melatih AI-nya menggunakan 560 karya berhak cipta mereka. Bulan lalu, angka itu membengkak secara dramatis. Label rekaman mengajukan amandemen gugatan yang menyebutkan lebih dari 61.000 lagu telah digunakan untuk pelatihan AI tanpa izin.

Pertumbuhan yang Tak Terbendung

Meski digugat, pertumbuhan Suno tidak melambat. Aplikasi ini terus bertengger di puncak tangga lagu App Store. Saat penggalangan dana Seri C, pengguna Suno dilaporkan menghasilkan lebih dari 7 juta lagu setiap hari, menurut dokumen pitch yang diperoleh Billboard.

Putaran Seri D dipimpin oleh Bond Capital, diikuti oleh IVP, Forerunner, Union Square Ventures, Alkeon, dan Quiet. Investor yang sudah ada seperti Matrix, Lightspeed, Menlo Ventures, dan Schroders Capital juga berpartisipasi.

Suno mengklaim bahwa mereka “sangat senang mendapat partisipasi dari beberapa seniman, produser, penulis lagu, dan pelaku industri musik terbaik,” tanpa menyebutkan nama siapa pun. Penghilangan nama ini cukup mencolok karena dukungan dari artis terkenal akan sangat membantu meredam narasi bahwa industri musik secara keseluruhan menentang apa yang sedang dibangun Suno.

Persaingan Makin Ketat

Pendanaan besar ini menunjukkan bahwa pasar AI musik terus memanas. Suno harus bersaing dengan platform serupa sambil tetap menghadapi tekanan hukum dari pemilik hak cipta di seluruh dunia.

Bagi pengguna di Indonesia, tren ini juga relevan. Banyak kreator konten lokal yang sudah memanfaatkan AI untuk membuat musik latar video, podcast, dan konten media sosial. Keputusan hukum terkait fair use di Amerika Serikat nantinya bisa berdampak pada ketersediaan layanan serupa secara global.

Pertanyaan besarnya tetap sama: apakah AI boleh dilatih menggunakan karya orang lain tanpa izin? Jawabannya belum tuntas, tapi investor Suno sudah memilih untuk bertaruh bahwa jawaban akhirnya akan berpihak pada mereka.

Read more