Preply Gabungkan AI dan Tutor Manusia, 75 Persen Pelajar Bahasa Inggris Langsung Aktif Pakai
Preply Gabungkan AI dan Tutor Manusia, 75 Persen Pelajar Bahasa Inggris Langsung Aktif Pakai
CLB.my.id - Preply, marketplace belajar bahasa online terbesar di dunia, membagikan hasil integrasi AI dari OpenAI ke dalam platform mereka. Produk utama bernama Lesson Insights menganalisis transkrip pelajaran dan menghasilkan umpan balik personal untuk setiap pelajar. Hasilnya, 75 persen pelajar bahasa Inggris langsung aktif menggunakan fitur ini sejak diluncurkan.
Lesson Insights bekerja secara otomatis dan terintegrasi ke dalam alur belajar. Setiap sesi di Preply Classroom direkam dan ditranskrip dengan persetujuan semua pihak. OpenAI kemudian menganalisis transkrip tersebut dan menghasilkan laporan terstruktur yang dikirim ke utas chat tutor dan pelajar dalam hitungan menit.
Apa Saja Isi Laporan AI
Laporan yang dihasilkan Lesson Insights mencakup ringkasan topik pelajaran utama, koreksi tata bahasa beserta penjelasannya, kosakata penting beserta terjemahan, umpan balik pengucapan, dan rekomendasi langkah belajar selanjutnya. Semua data ini kemudian masuk ke mesin latihan mandiri Preply untuk menghasilkan pekerjaan rumah yang dipersonalisasi.
Dmytro Voloshyn, Co-founder dan CTO Preply, menyebut bahwa personalisasi adalah peluang terbesar dalam pembelajaran bahasa. “Ada begitu banyak elemen yang spesifik untuk individu dan sulit, bahkan mustahil, ditangkap oleh manusia. AI bisa melakukannya jauh lebih baik,” ujarnya.
Angka adopsi fitur ini terbilang mengesankan. Lebih dari 70 persen tutor secara aktif menggunakan Lesson Insights. Retensi pengguna juga tinggi, dengan sekitar 75 persen pelajar aktif terus menggunakan fitur ini setelah lebih dari satu tahun sejak adopsi pertama.
Dampak untuk Tutor dan Pelajar
Bagi tutor, AI mengotomatiskan tugas administratif berulang seperti membuat rencana pelajaran dan pekerjaan rumah. Michelle Garcia Ramos, tutor bahasa Spanyol di Preply, mengaku waktu persiapan kelasnya terpotong lebih dari setengah. “Sebelum menggunakan fitur AI Preply, saya menghabiskan berjam-jam menyiapkan kelas dan membuat pekerjaan rumah. Sekarang waktu itu terpotong lebih dari setengah,” katanya.
Bagi pelajar, fitur ini memberikan pelacakan kemajuan yang nyata, latihan yang dipersonalisasi, dan motivasi berkelanjutan di antara sesi pelajaran. Hal ini berkontribusi pada peningkatan retensi pelajar di platform.
Preply juga mengadopsi ChatGPT Enterprise secara menyeluruh di internal perusahaan. Dari 600 lebih karyawan, 95 persen aktif menggunakan ChatGPT setiap minggu. Perusahaan juga membuat Custom GPT untuk menjaga konsistensi konten, termasuk Brand Voice GPT yang memastikan semua komunikasi memiliki nada yang seragam.
Codex untuk Tim Engineering
Di sisi teknis, 94 persen engineer Preply menggunakan Codex dan AI coding assistant lainnya untuk pembuatan kode, review, dan debugging. Voloshyn menyebut Codex membantu menulis kode dengan kecepatan yang sebelumnya tidak terbayangkan. “Dengan alat sekuat ini, engineer bisa lebih fokus pada arsitektur sistem secara keseluruhan dan menyelesaikan masalah pelanggan,” ujarnya.
Skor kepuasan platform Preply mencapai 4,7 dari 5 berdasarkan lebih dari 300.000 rating. Skor product market fit juga menyentuh 70 persen, angka yang kuat untuk platform edukasi di tengah persaingan ketat aplikasi belajar bahasa.
Pelajaran untuk Industri Edtech
Preply membagikan beberapa pelajaran dari perjalanan integrasi AI mereka. Pertama, perlakukan AI sebagai transformasi budaya, bukan sekadar peluncuran alat baru. Kedua, pilih use case berdampak tinggi dengan nilai pengguna yang jelas dan dampak terukur. Ketiga, investasikan pada pelatihan terstruktur dan lokakarya. Keempat, libatkan pengguna, dalam hal ini tutor, dalam membangun dan mengevaluasi dataset serta prompt.
Voloshyn menekankan bahwa AI bukan tentang menggantikan manusia. “Ini tentang memberdayakan mereka dengan kemampuan baru, dan kadang mendefinisikan ulang esensi pekerjaan itu sendiri,” katanya.
Visi ke depan Preply adalah menciptakan pengalaman belajar yang terus beradaptasi dan memahami setiap pelajar secara mendalam selama berbulan-bulan studi. Model yang mereka usung adalah manusia yang memimpin, AI yang memberdayakan. Pendekatan ini menjadi referensi berharga bagi platform edukasi di Indonesia yang sedang mengeksplorasi integrasi AI ke dalam layanan mereka.
Di Indonesia sendiri, pasar edtech terus berkembang dengan pemain utama seperti Ruangguru, Zenius, dan berbagai platform kursus bahasa online. Integrasi AI ke dalam pengalaman belajar bukan lagi tren, melainkan kebutuhan kompetitif. Platform yang mampu memanfaatkan AI untuk personalisasi tanpa menghilangkan sentuhan manusia akan memiliki keunggulan signifikan di pasar yang semakin ramai ini.
Keberhasilan Preply juga menunjukkan bahwa AI tidak harus menggantikan peran manusia untuk memberikan dampak besar. Dengan menempatkan AI sebagai pendamping tutor, bukan pengganti, Preply berhasil meningkatkan kualitas layanan sekaligus efisiensi operasional. Model ini bisa menjadi template bagi industri edukasi di Indonesia dalam mengadopsi teknologi AI secara bertanggung jawab.***
Sumber: OpenAI (openai.com/index/preply)