Helion Raih US$465 Juta, Startup Fusion Backingan Sam Altman Bidik Listrik untuk Microsoft 2028
Helion Raih US$465 Juta, Startup Fusion Backingan Sam Altman Bidik Listrik untuk Microsoft 2028
CLB.my.id - Helion, startup energi fusion yang didukung oleh CEO OpenAI Sam Altman, mengumumkan pendanaan Seri G senilai US$465 juta (sekitar Rp7,2 triliun) pada Kamis (4/6/2026). Putaran ini mengantarkan valuasi perusahaan ke angka US$15,5 miliar (sekitar Rp240 triliun), menjadikannya salah satu startup fusion paling bernilai di dunia.
Pendanaan dipimpin oleh Thrive Capital dengan sejumlah investor baru seperti Alta Park Capital, Anti Fund, BoxGroup, Lux Capital, Peak XV Partners, dan Bill Ford, eksekutif dari Ford Motor Company. Investor lama seperti Capricorn Technology Impact Funds, Lightspeed Venture Partners, Mithril Capital, Dustin Moskovitz melalui Good Ventures Foundation, dan SoftBank Vision Fund 2 juga kembali berpartisipasi.
Total modal yang sudah dikumpulkan Helion kini mencapai US$1,5 miliar (sekitar Rp23,3 triliun). Jumlah ini termasuk putaran Seri F senilai US$425 juta pada Januari 2025 lalu.
Orion, Pembangkit Fusion Pertama di Dunia
Dana segar ini akan dipercepat untuk membangun Orion, pembangkit listrik fusion pertama Helion yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi di Malaga, Washington. Helion menargetkan Orion bisa mengirimkan listrik fusion ke jaringan listrik grid pada 2028, sesuai dengan perjanjian pembelian daya (Power Purchase Agreement/PPA) yang sudah ditandatangani dengan Microsoft pada 2023.
Perjanjian dengan Microsoft tersebut berkapasitas 50 megawatt listrik bersih. Jika berhasil, ini akan menjadi pembangkit fusion pertama di dunia yang menghasilkan listrik komersial.
Helion mengklaim telah mencatat sejumlah pencapaian bersejarah melalui prototipe generasi ketujuhnya, Polaris. Prototipe ini menjadi mesin fusion pertama yang didanai secara swasta yang beroperasi dengan bahan bakar deuterium-tritium. Polaris juga memecahkan rekor suhu plasma perusahaan sendiri, melampaui 150 juta derajat Celsius.
Teknologi Unik yang Beda dari Kompetitor
Yang membedakan Helion dari pendekatan fusion lainnya adalah cara mereka menghasilkan listrik. Sebagian besar pesaing menggunakan magnet atau laser untuk menciptakan kondisi fusion, lalu mengandalkan turbin uap untuk mengubah panas menjadi listrik. Helion memakai magnet untuk memampatkan bahan bakar fusion, tetapi mengambil listrik langsung dari magnet itu sendiri.
Prosesnya bekerja seperti ini: fusion menyebabkan plasma mengembang dan mendorong medan magnet. Gaya ini kemudian diubah menjadi arus induktif langsung dari magnet. David Kirtley, CEO Helion, mengibaratkan proses ini mirip dengan rem regeneratif pada kendaraan listrik, di mana resistansi motor justru mengisi ulang baterai.
Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efisiensi pembangkit fusion secara dramatis. Namun, sebagian skeptis di kalangan ilmuwan mempertanyakan klaim Helion karena perusahaan ini jarang mempublikasikan penelitian di jurnal peer-reviewed.
“Kami tidak ingin berdebat tentang fusion. Kami hanya ingin membangunnya,” ujar Kirtley.
Peta Persaingan Energi Fusion Global
Helion bukan satu-satunya yang kebanjiran dana. Beberapa startup fusion lain juga mengumpulkan investasi besar belakangan ini. Focused Energy mengumpulkan US$240 juta, Thea Energy US$100 juta, dan Inertia Energy meraih US$450 juta dalam putaran Seri A. Type One Energy dilaporkan menargetkan US$250 juta untuk Seri B.
Meski sebagian besar perusahaan fusion tidak memperkirakan pembangkit skala komersial sebelum pertengahan 2030-an, investor tetap tertarik karena potensi energi yang hampir tak terbatas dari air laut dan kemampuannya untuk mendisrupsi pasar energi senilai triliunan dolar.
Bagi perusahaan teknologi berbasis AI seperti Microsoft, energi fusion sangat menarik karena kebutuhan pusat data yang terus meningkat memerlukan sumber daya listrik bersih yang andal dan berkelanjutan.
Sumber: TechCrunch, Helion Energy official announcement (4 Juni 2026)