Google Bayar SpaceX Rp14,4 Triliun Per Bulan untuk Akses 110.000 GPU NVIDIA

Share
Google Bayar SpaceX Rp14,4 Triliun Per Bulan untuk Akses 110.000 GPU NVIDIA

Google Bayar SpaceX Rp14,4 Triliun Per Bulan untuk Akses 110.000 GPU NVIDIA

Meta Description: Google dan SpaceX teken kontrak komputasi AI senilai US$920 juta per bulan selama 32 bulan. Ini detailnya.

CLB.my.id - Google resmi menandatangani perjanjian layanan cloud dengan SpaceX senilai US$920 juta per bulan, atau setara sekitar Rp14,4 triliun. Kontrak berdurasi 32 bulan ini, dari Oktober 2026 hingga Juni 2029, memberikan Google akses ke sekitar 110.000 GPU NVIDIA beserta CPU, memori, dan komponen terkait lainnya.

Pengumuman ini muncul melalui dokumen regulasi yang diajukan SpaceX pada Jumat, 5 Juni 2026, hanya satu minggu sebelum saham perusahaan Elon Musk itu diperdagangkan secara publik di bursa Nasdaq. SpaceX menargetkan penggalangan dana sekitar US$75 miliar dengan valuasi US$1,75 triliun, menjadikannya penawaran umum perdana terbesar dalam sejarah.

Kesepakatan Kedua Setelah Anthropic

Kesepakatan dengan Google ini bukan yang pertama bagi SpaceX di bisnis sewa daya komputasi. Pada akhir Mei 2026, SpaceX telah lebih dulu meneken kontrak serupa dengan Anthropic senilai US$1,25 miliar per bulan hingga 2029. Anthropic menyewa seluruh kapasitas yang tersedia di pusat data Colossus 1 dekat Memphis, Tennessee, fasilitas yang awalnya dibangun oleh xAI untuk kebutuhan kecerdasan buatannya sendiri.

xAI sendiri kini telah menjadi bagian dari SpaceX setelah merger sebelumnya. Perjanjian dengan Google tampaknya mencakup sekitar setengah kapasitas daya komputasi yang diakses Anthropic di Colossus 1. SpaceX tidak merinci pusat data spesifik mana yang akan digunakan Google. Elon Musk sebelumnya sempat menyebut bahwa Colossus 2 akan disediakan khusus untuk xAI.

Permintaan Mendadak dari Platform Agen AI Google

Dalam pernyataan resminya, Google menjelaskan bahwa kesepakatan ini lahir dari lonjakan permintaan yang tidak terduga. “Google Cloud dan SpaceX adalah mitra jangka panjang,” kata perwakilan Google. “Ini adalah perjanjian jangka pendek yang tepat waktu untuk memastikan kami memiliki kapasitas jembatan guna memenuhi permintaan pelanggan yang melonjak untuk platform agen kami, Gemini Enterprise, yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan kami.”

Permintaan yang dimaksud berasal dari produk AI agen Google yang baru diluncurkan. Gemini Enterprise memungkinkan bisnis dan pengembang membangun agen AI otonom yang bisa menjalankan tugas kompleks, dan adopsinya ternyata melampaui ekspektasi internal Google.

Alphabet Gelontorkan US$180 Miliar untuk Infrastruktur AI

Meski menyebut kesepakatan ini sebagai “jangka pendek,” induk perusahaan Google, Alphabet, sebenarnya sedang dalam mode belanja besar-besaran. Alphabet telah menaikkan rencana belanja modalnya menjadi lebih dari US$180 miliar untuk tahun ini dan menyatakan bahwa angka tersebut akan “meningkat secara signifikan” pada 2027. Untuk mendukung rencana itu, Alphabet baru-baru ini mengumumkan penjualan saham senilai US$80 miliar.

Ironisnya, Google sendiri disebut-sebut sebagai pemilik tunggal terbesar di dunia untuk daya komputasi AI. Fakta bahwa perusahaan sebesar Google masih perlu menyewa kapasitas dari SpaceX menunjukkan betapa dahsyatnya ledakan permintaan infrastruktur AI saat ini.

Klausul Pembatalan dan Jaminan Kinerja

Seperti kontrak dengan Anthropic, perjanjian Google juga mencakup klausul pembatalan. Kedua belah pihak memiliki opsi untuk mengakhiri perjanjian dengan pemberitahuan 90 hari setelah 31 Desember 2026. Akses Google ke pusat data akan bertahap “hingga September dengan biaya yang dikurangi,” menurut dokumen pengajuan.

SpaceX juga memberikan jaminan kinerja. Jika perusahaan gagal menyediakan akses ke jumlah GPU yang dijanjikan pada 30 September 2026, setelah masa tenggang satu bulan, Google dapat langsung membatalkan perjanjian atau menerima jumlah GPU yang tersedia dengan pengurangan biaya bulanan.

Google Investor Lama SpaceX

Hubungan Google dan SpaceX bukan hal baru. Google telah menjadi investor lama di perusahaan Elon Musk, dan kepemilikan sahamnya di SpaceX diperkirakan bernilai lebih dari US$100 miliar. Kedua perusahaan juga dilaporkan sedang dalam pembicaraan untuk membangun pusat data orbital, komponen besar dalam rencana masa depan SpaceX pasca-IPO.

Kesepakatan ini menambah daftar panjang kontrak komputasi AI bernilai fantastis di 2026. Sebelumnya, Anthropic, OpenAI, dan berbagai perusahaan teknologi besar lainnya telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mengamankan pasokan GPU di tengah kelangkaan chip global yang belum sepenuhnya mereda.


Read more