Data Pemain Pokémon Go Dipakai Latih Drone Militer AS, 30 Miliar Foto Jadi Bahan Navigasi

Share
Data Pemain Pokémon Go Dipakai Latih Drone Militer AS, 30 Miliar Foto Jadi Bahan Navigasi

Data Pemain Pokémon Go Dipakai Latih Drone Militer AS, 30 Miliar Foto Jadi Bahan Navigasi

CLB.my.id - Miliaran gambar yang diambil pemain Pokémon Go dan pengguna aplikasi Scaniverse ternyata telah digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan navigasi milik Niantic Spatial. Teknologi ini kini sedang diadaptasi untuk navigasi drone militer dalam kemitraan dengan perusahaan pertahanan Vantor yang sebelumnya dikenal sebagai Maxar Intelligence.

Niantic Spatial, perusahaan AI yang dipisahkan dari pengembang Pokémon Go Niantic pada Mei 2025, telah melatih modelnya menggunakan 30 miliar gambar yang dikumpulkan dari pemain game tersebut. Gambar-gambar ini awalnya diambil melalui fitur pemindaian AR opsional di Pokémon Go yang menawarkan hadiah bagi pemain yang memindai bangunan menggunakan ponsel mereka.

Dari Menangkap Pikachu ke Navigasi Drone

Teknologi inti yang dibangun Niantic Spatial disebut Sistem Pemosisian Visual atau Visual Positioning System. Sistem ini menentukan lokasi perangkat dengan membandingkan tampilan kamera terhadap peta 3D yang sangat detail. Teknologi ini sangat kritikal untuk navigasi di dalam ruangan, di kawasan perkotaan yang padat, atau di lokasi di mana GPS terganggu atau tidak tersedia.

Pada Desember 2025, Niantic Spatial mengumumkan kemitraan dengan Vantor untuk mengembangkan sistem pemosisian komprehensif yang bisa membantu drone terbang dan kendaraan darat menavigasi lingkungan tanpa sinyal GPS. Vantor, yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan luar angkasa dan satelit Maxar Intelligence, memiliki beberapa kontrak dengan pemerintah AS termasuk Badan Intelijen Geospasial Nasional, berbagai cabang militer AS, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Selama konferensi Defence Geospatial Intelligence di London pada Februari 2026, Tory Smith dari Niantic Spatial menggambarkan pengujian awal sistem terintegrasi yang menghasilkan pengurangan kesalahan pemosisian sebesar 70 persen dengan akurasi hingga 1,5 meter dalam banyak skenario.

Kontroversi Etika dan Persetujuan Pengguna

Penggunaan data permainan untuk teknologi militer memicu kekhawatiran etis yang signifikan. Jeroen van den Hoven, profesor etika dan teknologi di Universitas Teknologi Delft, mengakui bahwa data dari pemain secara tidak langsung telah berkontribusi pada aplikasi militer. Namun ia juga menyatakan bahwa jika Ukraina bisa memenangkan perang yang adil melawan Rusia dengan teknologi ini, maka itu merupakan perkembangan yang baik.

Haye Kesteloo dari DroneXL memberikan perspektif yang lebih keras. Menurutnya, data pelatihan berasal dari orang-orang yang mengira mereka sedang menangkap Pikachu, di bawah lisensi yang hampir tidak pernah dibaca siapa pun, yang kemudian dijual melalui rantai yang berakhir di dana kekayaan kedaulatan dan kontraktor pertahanan. Ia menegaskan bahwa persetujuan yang diperoleh untuk sebuah permainan bukanlah persetujuan untuk program senjata.

Floris De Hingh, pemain lama Pokémon Go, mengungkapkan kekhawatirannya tentang data miliknya yang mendukung sistem militer AS. Ia menyatakan menentang keras perang yang sedang dijalankan pemerintah AS terhadap Iran.

Pembelaan Kedua Perusahaan

Baik Niantic Spatial maupun Vantor mengklaim adanya pemisahan antara data game asli dan aplikasi militer. Niantic Spatial menyatakan bahwa data tersebut digunakan untuk melatih model dasar yang berbeda dari pemindaian mentah. Pemindaian yang diambil adalah titik-titik kepentingan publik seperti patung dan air mancur, fitur tersebut bersifat opsional, dan penggunaannya sudah diungkapkan sejak 2019.

Sejak Mei 2025, Niantic Spatial tidak lagi memiliki akses berkelanjutan ke data pemain Pokémon Go karena lisensi game tersebut kini dimiliki penerbit Scopely. Dalam pernyataannya, Niantic menyatakan bahwa data pemain Pokémon Go tidak lagi dibagikan dengan Niantic Spatial.

Vantor juga menyatakan tidak menggunakan data Pokémon Go dan tidak memiliki akses ke informasi dari dataset tersebut. Perusahaan hanya sedang mengeksplorasi adaptasi sistem pemosisian visual Niantic Spatial untuk meningkatkan kemampuan navigasi tanpa GPS yang sudah ada.

Namun DroneXL mencatat bahwa terlepas dari klaim pemisahan data, rantai pasok teknologi tetap menghubungkan pemindaian pemain game dengan kemampuan militer. Kasus ini bukan yang pertama di mana data konsumen yang dikumpulkan untuk tujuan hiburan berakhir mendukung infrastruktur pertahanan. ESET, perusahaan keamanan siber, pada Februari 2026 lalu mengidentifikasi malware Android pertama yang mengintegrasikan AI generatif langsung ke alur eksekusinya, menunjukkan bagaimana teknologi konsumen bisa dengan cepat beralih ke ranah militer dan keamanan.

Situasi ini menjadi pelajaran penting bagi semua pengguna aplikasi untuk meninjau Syarat Layanan dan kebijakan privasi agar memahami bagaimana data mereka mungkin digunakan atau dialihfungsikan. Ketika sebuah aplikasi meminta izin mengakses kamera dan lokasi, apa yang terjadi dengan data tersebut setelah dikumpulkan mungkin jauh melampaui ekspektasi pengguna.


Read more