AI Sudah Pecat 87.000 Pekerja AS di 2026, Melampaui Total Sepanjang 2025

Share
AI Sudah Pecat 87.000 Pekerja AS di 2026, Melampaui Total Sepanjang 2025

AI Sudah Pecat 87.000 Pekerja AS di 2026, Melampaui Total Sepanjang 2025

Meta Description: Data Challenger: AI sudah jadi alasan 87.714 PHK di AS sepanjang 2026, melampaui 54.836 sepanjang 2025. Peran apa paling terancam?

CLB.my.id - Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat bantu produktivitas. Di Amerika Serikat, teknologi ini telah menjadi alasan utama pemutusan hubungan kerja massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data terbaru dari Challenger, Gray & Christmas, perusahaan outplacement global, menunjukkan bahwa AI sudah dikutip sebagai penyebab 87.714 pemangkasan pekerjaan sepanjang 2026, angka yang sudah melampaui total 54.836 sepanjang tahun 2025.

Lonjakan ini terjadi sangat cepat. Pada Januari 2026, AI baru menyumbang 7 persen dari total PHK bulanan. Pada April, porsinya melonjak menjadi 26 persen, dan pada Mei mencapai 40 persen. Secara kumulatif, AI bertanggung jawab atas 22 persen dari seluruh pemangkasan pekerjaan di AS tahun ini.

Perusahaan Untung Besar Justru Paling Banyak Memecat

Pola yang paling mencolok dari gelombang PHK 2026 adalah bahwa perusahaan yang memecat karyawannya bukanlah perusahaan yang sedang kesulitan secara finansial. Sebaliknya, mereka adalah perusahaan dengan kinerja keuangan yang solid, bahkan sedang tumbuh.

Oracle, misalnya, memecat 20.000 hingga 30.000 karyawannya melalui email yang dikirim pukul 6 pagi pada April 2026. Angka ini mencakup sekitar 6 persen dari total tenaga kerja perusahaan. Yang mengejutkan, Oracle baru saja melaporkan kuartal fiskal yang kuat sebelum melakukan pemangkasan. Dana yang dihemat, diperkirakan mencapai US$10 miliar, dialokasikan untuk investasi pusat data AI.

Block, perusahaan fintech milik Jack Dorsey, memecat 4.000 karyawan atau sekitar 40 persen tenaga kerja globalnya. Dalam memo internal, Dorsey secara terbuka menyebut “kemampuan AI yang terus berkembang untuk melakukan berbagai tugas yang lebih luas” sebagai alasan utama. Ini menjadi peristiwa PHK berbasis AI terbesar dalam sejarah teknologi.

Meta, Snap, Amazon, dan Dell Ikut Gelombang

Meta memangkas 10 persen tenaga kerjanya, sekitar 8.000 posisi, untuk mendanai riset AI. Snap memotong 16 persen karyawannya dengan CEO Evan Spiegel secara langsung mengutip AI. Amazon melakukan 16.000 pemangkasan korporat di Seattle, San Francisco, dan Menlo Park, sementara Dell memotong 11.000 posisi saat beralih ke server AI.

Total kumulatif PHK teknologi di 2026 telah melampaui 150.000 pekerja di lebih dari 500 perusahaan. Angka ini meningkat 33 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 dan berada di jalur untuk mendekati 370.000 secara penuh tahun, mendekati rekor pasca-pandemi 430.000 pada 2023.

Siapa yang Paling Terancam?

Berdasarkan analisis berbagai laporan industri, beberapa peran paling rentan terhadap otomasi AI di 2026 antara lain layanan pelanggan, yang menjadi fungsi pertama yang diotomatisasi secara massal. Konten, pemasaran, dan quality assurance berada di gelombang berikutnya. Manajemen menengah menjadi “kejutan” karena banyak perusahaan menemukan bahwa AI bisa menggantikan fungsi koordinasi dan pelaporan yang selama ini dilakukan oleh lapisan manajerial.

Namun, tidak semua berita buruk. Peran yang berkaitan langsung dengan pengembangan dan pengelolaan AI justru mengalami pertumbuhan. Perusahaan AI native seperti Anthropic, OpenAI, dan xAI terus merekrut secara agresif. Pertanyaan besarnya bukan apakah AI akan mengubah pasar kerja, melainkan apakah pekerja berada di sisi yang tepat dari perubahan ini.

Dampak Ekonomi yang Meluas

Dampak PHK massal ini tidak berhenti di pintu kantor. Analisis menunjukkan bahwa US$8,4 miliar kompensasi tahunan telah dihapus dari ekonomi lokal. Tingkat kekosongan properti komersial di San Francisco telah melampaui 36 persen. Waktu untuk mendapat pekerjaan baru juga semakin panjang karena kesenjangan keterampilan antara pekerjaan lama dan kebutuhan baru semakin melebar.

McKinsey dan Goldman Sachs memproyeksikan bahwa paparan pekerjaan knowledge-work terhadap otomasi AI akan terus meluas. Namun, ada pula argumen sejarah yang menunjukkan bahwa transisi teknologi sebelumnya justru menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihilangkan. Pertanyaannya, apakah transisi kali ini berbeda karena kecepatan dan skala perubahannya.

Pelajaran untuk Pekerja Teknologi Indonesia

Bagi pekerja teknologi di Indonesia, tren ini memberikan sinyal yang jelas. Literasi AI bukan lagi pembeda, melainkan kebutuhan dasar. Perusahaan di Indonesia mungkin belum memecat massal seperti di AS, tetapi pola yang sama biasanya tiba dengan penundaan satu hingga dua tahun.

Pekerja yang bisa berkolaborasi dengan AI, bukan sekadar menggunakannya, akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Kemampuan yang tidak bisa direplikasi AI, seperti pemahaman konteks lokal, hubungan interpersonal, dan pemikiran kreatif lintas domain, menjadi aset yang semakin berharga di tengah gelombang otomasi yang terus meningkat.


Read more