Review Lego Smart Play Pokemon: Bisa Bertarung, tapi Sayang Tak Bisa Bersuara
CLB.my.id - Lego akhirnya menghadirkan generasi kedua Smart Brick dengan tema Pokemon, dan kali ini ada pertarungan sungguhan. Setelah generasi pertama bertema Star Wars yang dinilai kurang memuaskan, Lego Smart Play Pokemon menawarkan gameplay yang jauh lebih menarik, meskipun masih ada kekurangan yang cukup mengecewakan.
Total 12 set baru diumumkan dan bisa dipesan mulai sekarang, dengan tanggal peluncuran resmi 1 Agustus 2026. Harga berkisar dari 14,99 dolar AS untuk set Jigglypuff hingga 119,99 dolar AS untuk set pertarungan Charizard melawan Jolteon.
Dua Set “All-in-One” yang Wajib Dimiliki
Dari 12 set yang diumumkan, hanya dua yang termasuk kategori “all-in-one”, artinya sudah menyertakan Smart Brick dan charger. Sepuluh set lainnya hanya berisi Smart Tag yang bisa memicu interaksi tertentu, tetapi tetap membutuhkan Smart Brick terpisah agar bisa berfungsi.
Set Pikachu seharga 69,99 dolar AS hadir dengan figur Pikachu, treehouse, dan satu Smart Brick. Sementara set pertarungan Charizard vs Jolteon seharga 119,99 dolar AS menjadi satu-satunya set yang langsung bisa dipakai untuk pertarungan karena sudah menyertakan dua Smart Brick.
Ukuran set bervariasi dari 88 keping untuk Jigglypuff hingga 831 keping untuk pertarungan Umbreon melawan Garchomp. Rating usia berkisar dari 6 tahun ke atas hingga 10 tahun ke atas untuk set yang lebih besar.
Mekanisme Pertarungan yang Mengejutkan Seru
Fitur paling menarik dari generasi kedua ini adalah kemampuan bertarung antar Pokemon. Caranya cukup unik: kocok dua figur Pokemon yang terhubung Smart Brick untuk memulai mode pertarungan. Musik pertarungan 8-bit akan mengiringi jalannya duel.
Mekanisme pertarungannya sederhana namun membutuhkan sedikit keterampilan. Dorong maju figur dengan cepat untuk serangan ringan. Tahan figur ke belakang beberapa detik untuk mengisi tenaga serangan kuat. Tarik figur ke belakang untuk menghindar. Setelah satu hingga dua menit bertarung, satu Pokemon akan keluar sebagai pemenang dengan efek lampu berkedip dan musik kemenangan.
Tidak semua Pokemon diciptakan sama dalam sistem ini. Beberapa Pokemon secara inheren lebih kuat dari yang lain. Mewtwo seharusnya selalu lebih unggul dari Pikachu. Keunggulan tipe juga berlaku, sehingga Squirtle akan lebih sering mengalahkan Charmander. Setiap Smart Tag menunjukkan tipe dan nomor Pokedex masing-masing Pokemon.
“Ini adalah titik manis untuk permainan terbuka yang tidak bisa terlalu rumit dan tidak bisa terlalu membingungkan,” kata Federico Begher, Senior Vice President Lego.
Mode Latihan yang Tidak Permanen
Selain bertarung, pengguna bisa melatih Pokemon dengan mengetuk figur pada tag latihan. Setelah masuk mode latihan, kocok figur ke target yang dibangun di dalam set atau cukup ayunkan di udara. Akselerometer di dalam Smart Brick akan mendeteksi gerakan dan menaikkan level Pokemon, membuatnya lebih kuat di pertarungan berikutnya.
Namun ada batasan penting: peningkatan kekuatan dari latihan bersifat sementara. Power boost akan hilang begitu Smart Brick dilepas dari figur atau baterainya habis. Lego mengatakan ini sengaja dirancang karena dalam pengujian, anak-anak menikmati mengulang proses latihan dari awal.
Kelemahan Terbesar: Pokemon Tidak Bisa Bersuara
Ini adalah kekecewaan terbesar dari set Lego Smart Play Pokemon. Tidak satu pun Pokemon yang mengucapkan namanya sendiri atau mengeluarkan suara khas dari game atau anime. Pikachu tidak akan berkata “pika pika”. Sebagai gantinya, mereka mengeluarkan suara makhluk generik dan efek elemen dasar.
Sam Coates, Head of Smart Play Platform di Lego, menjelaskan alasannya. Dari sisi teknis, synthesizer runtime di dalam Smart Brick memiliki memori yang sangat terbatas dan menghasilkan suara secara real-time menggunakan sistem mirip MIDI. Dari sisi globalisasi, suara harus bisa bekerja di seluruh dunia tanpa masalah lokalisasi. Pikachu memang Pikachu di mana pun, tetapi Squirtle bernama Zenigame di Jepang.
“Anak-anak harus mengatakan ‘pika pika’ sendiri, untuk menghindari mendengar nama Pokemon yang tidak terdengar benar bagi mereka,” kata Coates.
Fitur Lanjutan yang Belum Tercapai
Lego sebenarnya sudah menunjukkan fitur-fitur lebih canggih di ajang CES awal tahun ini, termasuk interaksi yang berubah tergantung posisi tepat karakter, tag, dan brick. Fitur-fitur ini belum diimplementasikan di generasi kedua.
Ada juga kekhawatiran soal durabilitas. Figur bisa pecah saat permainan aktif mengingat latihan dan pertarungan sama-sama melibatkan benturan figur dengan kecepatan tinggi. Lego mengatakan sudah melakukan pengujian berulang untuk membatasi titik lemah, tetapi benturan tetap tak terhindarkan.
Apakah Layak Dibeli?
Lego Smart Play Pokemon adalah lompatan besar dibanding generasi Star Wars. Kemampuan bertarung dan melatih Pokemon memberikan gameplay loop yang benar-benar baru dan membuat anak-anak bisa bermain tanpa layar. Namun ketiadaan suara Pokemon yang khas tetap menjadi kekurangan yang sulit dimaafkan, terutama bagi penggemar Pokemon yang sudah lama menantikan figur Lego yang bisa berkata “pika pika”.***