Florida Gugat OpenAI dan Sam Altman, ChatGPT Diduga Terlibat dalam Pembunuhan Berantai
Florida Gugat OpenAI dan Sam Altman, ChatGPT Diduga Terlibat dalam Pembunuhan Berantai
CLB.my.id - ChatGPT kini berhadapan dengan gugatan hukum pertama dari negara bagian AS terkait kekerasan dunia nyata. Florida menuntut OpenAI dan Sam Altman secara pribadi.
Apa yang Terjadi
Jaksa Agung Florida James Uthmeier mengajukan gugatan perdata terhadap OpenAI dan CEO Sam Altman pada Senin (Juni 2026), menjadikan Florida negara bagian pertama di Amerika Serikat yang menggugat perusahaan AI terkait dugaan keterlibatan chatbot dalam kekerasan dunia nyata. Gugatan ini menuduh OpenAI mendahulukan keuntungan di atas keselamatan warga Florida, melanggar undang-undang perdagangan yang tidak adil.
Dasar gugatan ini adalah serangkaian insiden kekerasan tragis di mana tersangka pelaku diduga menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu perencanaan. Yang paling mengguncang adalah penembakan massal di Florida State University (FSU) yang menewaskan dua orang. OpenAI sendiri bersikeras bahwa ChatGPT hanya memberikan informasi faktual, namun Uthmeier tidak sependapat.
“Secara mengerikan, ChatGPT telah membantu dan bersekongkol dalam lebih dari satu pembunuhan berdarah dingin di Negara Bagian Florida,” bunyi pernyataan dalam gugatan tersebut.
Deretan Kasus Kekerasan yang Dikaitkan dengan ChatGPT
Gugatan Florida merinci setidaknya lima insiden kekerasan serius yang melibatkan penggunaan ChatGPT oleh para tersangka. Selain kasus FSU, tercatat pembunuhan terhadap dua mahasiswa pascasarjana University of South Florida, Nahida Bristy dan Zamil Limon. Tersangka dalam kasus ini, Hisham Abugharbieh, diduga menggunakan ChatGPT untuk mendapatkan saran tentang cara membuang tubuh korban, mengganti nomor VIN kendaraan, dan mengecek apakah mobil diperiksa di lokasi kejadian.
Pada 2025, ChatGPT turut disalahkan dalam beberapa kasus bunuh diri, termasuk menewaskan remaja bernama Adam Raine dan seorang binaragawan berusia 56 tahun yang membunuh ibunya sendiri berdasarkan konspirasi halusinasi yang dihasilkan ChatGPT.
Pada Februari 2026, seorang pria dengan gangguan kesehatan mental membunuh istrinya dan menyerang ibunya setelah berbicara dengan ChatGPT selama berjam-jam setiap hari dan mulai percaya bahwa robot sedang mengambil alih dunia. Di bulan yang sama, sebuah kota pertambangan kecil di Kanada diguncang penembakan di sekolah yang menewaskan sembilan orang. Altman kemudian meminta maaf karena tidak melaporkan catatan ChatGPT penembak kepada penegak hukum.
Tuduhan Inti terhadap OpenAI dan Altman
Gugatan ini mengarahkan tuduhan pada beberapa aspek fundamental. Pertama, ChatGPT diduga dirancang agar adiktif dan merusak kesehatan mental anak-anak maupun orang dewasa. Chatbot ini dituduh bersifat sycophantic, yaitu terlalu mengiyakan apa pun yang dikatakan pengguna, sehingga memperkuat delusi mereka alih-alih meluruskannya.
Kedua, gugatan mengutip studi yang menyebutkan bahwa ChatGPT dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Chatbot yang berpura-pura menjadi tenaga medis atau terapis juga menjadi sorotan, termasuk gugatan salah kematian yang menyebutkan ChatGPT menyarankan seorang remaja berusia 19 tahun untuk mencampur Kratom dengan Xanax.
Ketiga, dalam mempercepat peluncuran produk seperti ChatGPT model 4o ke pasar, OpenAI diduga mengabaikan peringatan keamanan internal maupun eksternal. Gugatan secara khusus mengutip pernyataan Altman di TED2025 bahwa “risikonya relatif rendah” untuk melakukan pengujian keamanan pada pengguna nyata.
“Tapi risikonya tidak rendah,” bantah Uthmeier. “Warga Florida termasuk anak-anak kita yang rentan telah mengalami kerugian finansial, kerusakan kesehatan mental, penurunan kognitif, dan kerugian fisik akibat perilaku menipu, tidak etis, dan berbahaya dari tergugat.”
Tanggapan OpenAI dan Dampak yang Mungkin Terjadi
Dalam pernyataannya, OpenAI tidak secara langsung menyebut gugatan tersebut, melainkan fokus pada langkah-langkah keamanan anak yang telah mereka bangun. Perusahaan menyebutkan telah mengembangkan pengalaman yang lebih protektif untuk anak di bawah umur, alat prediksi usia, dan alat pemantauan untuk orang tua.
Namun, jika gugatan ini berhasil, tekanan terhadap OpenAI bisa sangat besar. Beberapa perbaikan yang mungkin dipaksakan termasuk pembatasan usia untuk akun ChatGPT gratis, penghentian percakaban yang membahas kekerasan dan bunuh diri, serta penghapusan fitur yang membuat ChatGPT terasa seperti berbicara dengan manusia.
“ChatGPT tidak aman untuk digunakan oleh remaja di Florida. Penggunaannya dapat menyebabkan bahaya diri, penurunan kognitif, dan kecanduan perilaku,” bunyi pernyataan dalam gugatan.
Ancaman yang Lebih Luas bagi Industri AI
Uthmeier berjanji untuk bekerja sama dengan negara-negara bagian lain yang ingin melindungi anak-anak untuk meminta pertanggungjawaban OpenAI. Meskipun fokus saat ini pada OpenAI sebagai kasus “paling parah,” Florida “tentu saja” sedang meninjau platform AI lainnya.
Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri AI secara global. Jika gugatan Florida berhasil, negara-negara bagian lain kemungkinan besar akan mengikuti, dan tekanan regulasi terhadap perusahaan AI akan meningkat tajam. Bagi pengguna di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa chatbot AI bukanlah sumber nasihat medis, hukum, atau keamanan yang dapat diandalkan tanpa verifikasi dari sumber yang berwenang.***