Endava Ubah Total Cara Kerja Perusahaan dengan AI Agent dari OpenAI
Endava Ubah Total Cara Kerja Perusahaan dengan AI Agent dari OpenAI
CLB.my.id - Sebuah perusahaan teknologi global dengan lebih dari 25 tahun pengalaman di industri enterprise solutions mengambil langkah berani. Endava, perusahaan yang berbasis di London itu, tidak hanya sekadar menggunakan AI sebagai alat bantu. Mereka merombak total cara kerja perusahaan, dari hulu ke hilir, dengan mengandalkan AI agent dari OpenAI.
Perubahan besar ini berawal dari satu kesadaran sederhana. Matthew Cloke, Chief Technology Officer Endava, menyadari bahwa adopsi AI bukan sekadar soal memasang software baru. Ini tentang mengubah perilaku dan budaya kerja seluruh organisasi. Endava, yang telah bermitra dengan OpenAI selama bertahun-tahun, kini menggunakan ChatGPT Enterprise dan Codex sebagai tulang punggung operasional mereka.
“Untuk menjadi AI-native di Endava, artinya berpikir tentang AI untuk menyelesaikan masalah terlebih dahulu. AI adalah hal pertama yang kamu lakukan, bukan yang terakhir,” ujar Cloke.
DavaFlow: Metodologi Pengiriman Software Berbasis AI
Revolusi di Endava dimulai dari departemen software delivery. Ketika engineering mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat output, ternyata hambatan muncul di tahap sebelumnya. Pengumpulan requirements, analisis bisnis, dan koordinasi dengan stakeholder justru menjadi bottleneck baru.
Dari situlah lahir DavaFlow, metodologi delivery berbasis AI yang dikembangkan sendiri oleh Endava. Teknologi OpenAI kini tertanam di seluruh siklus DavaFlow. Mulai dari persiapan meeting, perencanaan bisnis, product discovery, software engineering, hingga deployment.
“Tidak ada bagian dari DavaFlow yang tidak menggunakan teknologi OpenAI,” kata Cloke menegaskan.
Meluas ke Seluruh Divisi Perusahaan
Yang menarik, adopsi AI di Endava tidak berhenti di tim engineering. Penggunaan merambah ke semua fungsi bisnis. Tim legal memanfaatkan AI untuk mempercepat riset dan dokumentasi. Project manager menggunakan Codex untuk membuat laporan tata kelola dan merangkum progres proyek.
Tim komersial bahkan menggantikan perencanaan berbasis spreadsheet yang berat dengan aplikasi interaktif ringan yang dibuat oleh AI. Salah satu contoh konkret, sebuah aplikasi pricing berhasil dibuat dalam waktu singkat, tepat saat diskusi berlangsung.
Para pemimpin perusahaan juga tidak ketinggalan. Mereka menggunakan AI agent untuk merangkum proyek, mengotomasi komunikasi, mengelola kotak masuk email, dan berkoordinasi secara asinkron.
Hasil yang Terukur
Transformasi ini menghasilkan dampak nyata. Pengiriman software menjadi lebih cepat berkat AI agent yang terintegrasi dalam workflow engineering. Adopsi AI meluas ke tim legal, keuangan, dan operasional. Pekerjaan manual untuk pelaporan dan koordinasi berkurang signifikan.
Salah satu capaian paling menonjol adalah demokratisasi pembuatan tools. Tim non-engineering kini mampu membuat aplikasi internal sendiri tanpa harus menunggu dukungan dari tim teknis. Kemampuan menggunakan AI juga sudah menjadi bagian dari ekspektasi saat rekrutmen dan promosi di Endava.
Pelajaran Penting untuk Perusahaan Lain
Cloke membagikan enam pelajaran kunci dari perjalanan transformasi Endava. Pertama, perlakukan adopsi AI sebagai perubahan perilaku, bukan sekadar peluncuran software. Kedua, pemimpin harus aktif menggunakan AI agar adopsi menyebar ke seluruh perusahaan.
Ketiga, berikan ruang untuk eksperimen, meskipun hasilnya belum sempurna. Keempat, libatkan tim non-teknis sejak awal. Kelima, pengalaman langsung adalah cara tercepat untuk mengatasi keraguan. Ke keenam, integrasikan AI ke dalam workflow sehari-hari, bukan sebagai inisiatif terpisah.
Fase berikutnya bagi Endava adalah orkestrasi, yakni menggabungkan model, agent, workflow, dan keahlian manusia ke dalam sistem terpadu yang mengubah model operasional organisasi. Pendekatan ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan-perusahaan besar mulai melihat AI bukan lagi sebagai proyek eksperimen, melainkan infrastruktur inti bisnis.
“Kami sangat antusias dengan workflow yang bisa diciptakan dengan menggabungkan semua tools ini,” ujar Cloke.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, kasus Endava memberikan gambaran konkret tentang bagaimana transformasi AI bisa diterapkan secara menyeluruh. Perusahaan lokal yang bergerak di bidang pengembangan software, konsultan IT, maupun startup bisa mengambil pelajaran bahwa adopsi AI tidak harus dimulai dari tim teknis saja. Justru tim non-teknis seperti legal, keuangan, dan manajemen proyek bisa menjadi katalis perubahan yang efektif.
Bagi perusahaan lain yang masih ragu, Cloke punya pesan singkat. “Masa depan sudah tiba. Kamu hanya perlu masuk ke dalamnya.”***