Endava Pakai Codex, Analisis Kebutuhan Software Bisa Turun dari Pekan ke Jam

Share
Endava Pakai Codex, Analisis Kebutuhan Software Bisa Turun dari Pekan ke Jam

CLB.my.id - Endava memakai Codex bukan hanya untuk menulis kode, tetapi untuk mengubah cara kerja organisasi software. Perusahaan layanan teknologi global itu menyebut analisis kebutuhan yang sebelumnya bisa memakan waktu berminggu-minggu kini dapat dipadatkan menjadi hitungan jam.

Dalam laporan OpenAI yang terbit 28 Mei 2026, Endava dijelaskan sebagai perusahaan kontraktor software global dengan engineer di Eropa, Amerika, dan Asia. Kliennya berasal dari sektor perbankan, asuransi, ritel, dan media.

Dari Coding Assistant ke Agen Siklus Kerja

Endava menyebut dirinya sebagai agentic organization. Artinya, keahlian senior tidak hanya tinggal di kepala arsitek atau engineer berpengalaman, tetapi dikodekan ke dalam agen yang mendampingi tim dari intake, ideation, delivery, hingga operasional.

Codex dipakai di banyak tahap, mulai dari requirements analysis, desain, spesifikasi, pengembangan, operasi, komunikasi dengan klien, hingga dokumentasi arsitektur. Ini memperlihatkan bahwa AI coding modern mulai bergerak melewati fungsi penulisan kode.

Pengetahuan Senior Dibagikan Lebih Cepat

Mike Krolnik, Global SVP of Agentic Architecture Endava, menyebut Codex membantu senior architect menjadikan sudut pandang mereka lebih mudah diakses oleh anggota tim junior. Dengan cara ini, junior developer dapat bekerja bersama panduan yang membawa pola pikir senior secara real time.

Joe Dunleavy, Regional CTO for Europe Endava, juga menyatakan timnya berpindah dari banyak memproduksi kode sendiri menjadi mengawasi pekerjaan yang dapat dihasilkan Codex. Menurutnya, kualitas output meningkat secara besar.

Salah satu contoh yang disorot adalah workflow review kontrak legal. Tim legal Endava membawa tantangan internal berupa peninjauan ribuan halaman kontrak terhadap kriteria tertentu, lalu menerjemahkan kebutuhan hukum menjadi kebutuhan engineering.

Biasanya pekerjaan seperti ini membutuhkan banyak bolak-balik antara lawyer dan engineer. Endava kemudian mengadakan deep-dive meeting selama dua jam dengan stakeholder legal, merekam sesi itu, memasukkan transkrip ke Codex, dan memakai Codex untuk menghasilkan spesifikasi kebutuhan kerja.

Pelajaran untuk Tim Software Lokal

Banyak tim software di Indonesia menghadapi masalah yang mirip, yaitu dokumentasi minim, kebutuhan bisnis berubah cepat, dan senior engineer terbatas. Pendekatan Endava memberi gambaran bahwa AI bisa menjadi alat transfer pengetahuan, bukan sekadar pembuat potongan kode.

Namun kuncinya tetap pada proses. Codex tidak menggantikan validasi kebutuhan, review arsitektur, atau komunikasi dengan stakeholder. Ia mempercepat penyusunan draf, merapikan konteks, dan membantu tim melihat pola yang mungkin tercecer.

Jika diterapkan hati-hati, model seperti ini bisa membantu agensi, startup, dan tim internal perusahaan menyusun spesifikasi lebih cepat. Tetapi output AI tetap harus diperlakukan sebagai bahan kerja yang diverifikasi, bukan keputusan final yang langsung dikirim ke produksi.

Sumber utama: OpenAI.

Read more